Entri Populer

Senin, 01 November 2010

Mbah Maridjan Meninggal dalam Posisi Sujud

Mbah Maridjan Meninggal dalam Posisi Sujud


Mbah maridjan di temukan meninggal dunia di dapur rumah Mbah Maridjan dalam posisi sujud.
Tim evakuasi yakin jasad yang ditemukan di dapur rumah Mbah Maridjan dalam posisi sujud adalah juru kunci (kuncen) Gunung Merapi itu. Petugas mengenali dari benda-benda yang melekat di tubuh Mbah Maridjan.
"Dilihat dari batiknya dan kopiah yang dipakai di kepalanya kita yakin," kata petugas Tim SAR Yogyakarta, Suseno, saat ditemui di RS dr Sardjito, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010).

Dia menjelaskan, Mbah Maridjan ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIB. Tim evakuasi segera membawa dia ke RS Sardjito untuk dievakuasi dan identifikasi. 
"Lokasi penemuan jenazahnya di daerah dapurnya, di belakangnya ada alat-alat dapur," tutupnya.
Tim evakuasi yang turun pada pagi ini adalah tim yang kedua. Sebelumnya pada Senin (26/10) malam tim tidak sampai memeriksa ke dalam rumah. Tim segera turun mengingat kondisi gelap.


Mbah Maridjan menetap di Dusun Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY. Dia menjadi kuncen Merapi atas titah Sultan HB IX (alm). Pada 2006, Mbah Maridjan enggan mengungsi dengan alasan belum saatnya Merapi meletus. Dia selamat karena awan panas (wedhus gembel) dan material tidak melewati kampungnya, melainkan ke Kaliadem.
  
Turut Berduka dengan musibah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Semoga arwah arwah para korban musibah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa . . . Amien..

(http://detiknews.com)

Mbah Maridjan Dimakamkan di Kaki Merapi

Mbah Maridjan dimakamkan di pemakaman keluarga. 
Hanya 5 kilometer dari kampungnya.



Tugas Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi sudah paripurna.
Selasa 26 Oktober 2010 petang, awan panas Merapi 'wedhus gembel' menerjang Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. Juga ke rumah Mbah Maridjan. 
Rabu pagi 27 Oktober 2010 pagi, kuncen Merapi itu ditemukan tewas di rumahnya. Dalam posisi bersujud.


Belasan orang juga ditemukan meninggal di sekitar rumah Mbah Maridjan, termasuk sahabat kami, editor VIVAnews,com, Yuniawan Wahyu Nugroho.

"Mbah Maridjan dimakamkan hari ini pukul 10.00 WIB, dari RS Sardjito berangkat pukul 09.00 WIB," kata kerabat Mbah Maridjan, Agus Winaryo, Kamis 27 Oktober 2010.
Saat ini pihak keluarga sudah berdatangan ke Sardjito. Ada istri Mbah Maridjan dan sejumlah anaknya: Asih, Panut, Widodo, dan Lastri.

Diungkapkan Agus, salat jenazah akan dilakukan di masjid RS Sardjito. "Masyarakat yang ingin menyalatkan dipersilakan sebelum jam 09.00 WIB," kata dia.
Mbah Maridjan, kata dia, dimakamkan di Srumen, Glagaharjo, Cangkringan.

Sementara jenazah korban lainnya akan dimakamkan secara massal di Sidorejo, Umbulharjo, Cangkringan.

"Simbah dimakamkan di makam keluarga, karena mbahnya ada di sana. Dari makam Sidorejo hanya dibatasi Sungai Gendol," tambah dia.
Makam Mbah Maridjan dekat dengan kampungnya Kinahrejo -- kampung asri yang berubah jadi padang tandus pasca diterjang awan dan abu Merapi.

"Kira-kira hanya 5 kilometer dari kampungnya," tambah Agus.

Makam pria bernama asli Mas Penewu Suraksohargo ada di kaki Merapi -- gunung yang ia jaga dan pelihara sampai ajal menjemput.

(vivanews.com)
Kontroversi Tentang Mbah Maridjan

Berita tentang kematian Mbah Maridjan sontak menjadi berita panas akhir-akhir ini. Betapa tidak, orang yang dikenal mampu “menaklukkan gunung merapi” itu ternyata menemui ajalnya dibawah merapi juga. Hembusan awan panas yang dikeluarkan Merapi meluluhlantakkan desa Kinahrejo, lokasi dimana Mbah Maridjan tinggal.
Mbah Maridjan, begitulah dia dikenal, telah menjadi juru kunci gunung Merapi sejak 1982. Sebelum kejadian mengenaskan “Wedus Gembel” tersebut, Mbah Maridjan memang sudah diajak mengungsi oleh salah satu orang dekatnya. Tetapi ajakan itu diabaikan oleh si Mbah, berikut kutipannya dari Vivanews.com :


Mengetahui telah terjadi erupsi di bagian barat Merapi hingga sejauh 7 kilometer Agus kemudian mengajak Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian.”Orang-orang mau saya bawa si Mbah. Turun nggak?” Agus membujuk. Tapi Mbah Maridjan diam.
Tak lama kemudian sirene tanda bahaya berbunyi. Orang-orang segera diungsikan. Agus, Wawan, Tutur, keluarga Mbah Maridjan, dan warga sekitar, mengungsi menumpang dua mobil. Wawan berkali-kali mengulang keluhannya kepada Agus. “Harusnya saya bersama si Mbah.”
Mbah Maridjan memang menolak dievakuasi. Pada waktu Gunung Merapi meletus pada 2006, Mbah Maridjan juga tetap memilih bertahan, walau dibujuk langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Begitulah kira-kira gambaran sebelum kejadian hembusan awan panas Merapi yang menyebabkan meninggalnya sang juru kunci merapi, Mbah Maridjan.

Mbah Marijan meninggal dalam posisi sujud. Ia masih mengenakan baju batik, kopiah warna putih serta sarung. Diduga saat bencana wedhus gembel datang yang bersangkutan sedang shalat. Tim SAR juga menemukan 9 jenazah lainnya di rumah dan tidak jauh dari rumah Mbah Maridjan. Belum diketahui akan dimakamkan dimana almarhum Mbah Marijan, namun untuk sementara jenazahnya berada di RS Dr Sarjito bersama jenazah korban lainnya.


Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan duka cita atas meninggalnya Mbah Maridjan dan akan segera mencari penggantinya. Kini Mbah Maridjan yang dikenal sebagai figur sentral telah berpulang dijemput wedus gembel Merapi. Saya turut berduka cita atas meninggalnya beliau. Semoga amal dan ibadahnya diterima oleh Allah SWT.

(vivanews.com)

Lagu Mbah Maridjan

Setelah meninggal di gunung merapi, ada lagu Mbah Maridjan keluar.siapa yang bikin lagu ini, apa memang khusus mbah maridjan, dan untuk kenang-kenangan saja?.
Dialah Cak diqin yang terinspirasi oleh mbah maridjan, dan mungkin salut kepadanya, lengkap dengan campur sarinya, cak diqin menyanyi, agak aneh terdengar tapi ini merupakan sebuah lagu untuk mbah maridjan satu - satu nya yang ada.

Lirik Lagu Mbah Maridjan

Siapa yang tidak mengenalnya
Seorang lelaki suku Jawa
Penakluk gunung yang berbahaya
Urung meletus karena doanya
Dikenal tak hanya Indonesia
Juga dikenal manca negara
Lelaki yang perkasa
Lugu dan bersahaja
Mbah Marijan itu namanya
Mbah Marijan tokoh disegani
Sebagai juru kunci
Banyak yang menjuluki
Semelekete Gunung Merapi
[2X:]
Mbah Marijan… (Roso! Roso!)
Mbah Marijan… (Rosa! Rosa!)
Mbah Marijan pancen roso

Setelah baca lirik lagu nya, aneh dan biasa aja, kata-katanya gak mengharukan, si pencipta terlihat sangat meng elu-elukan kepada mbah maridjan, dan ini dia persembahkan untuk mbah yang tewas di gunung merapi, walaupun demikian kita acungin jempol untuk cak diqin atas lagu Mbah Maridjan.

(berita.gratisku.web.id)
Meninggalnya Mbah Marijan

Mbah Marijan yg mempunyai nama asli Mas Penewu Suraksohargo ini diyakini telah tewas di dalam rumahnya yang berjarak 4 Km dari gunung merapi. Pada Saat dievakuasi jenazah, posisi Mbah Marijan masih keadaan sujud dimana semua tubuhnya terdapat luka bakar semua. Yang tak kalah menarik lainnya, terdapat masjid yang berdiri kokoh dan dua ekor sapi perah di desa yg di taburi debu panas gunung berapi yang masih hidup. Sapi penghasil susu itu, masih saja tegak berdiri sampai pagi tadi. Namun, kondisi sapi ini memang mengenaskan. Dua sapi ini tetap berdiri di pinggir bangunan rumah yang sudah porak-poranda, tak ada air dan makanan di sampingnya.

Sekujur tubuh ke dua sapi perah itu banyak terdapat luka bakar. Sebagian kulitnya telah mengelupas dan melepuh. Menurut Kesaksian dari salah seorang Tim Evakuasi Mbah Marijan yang mendatangi wilayah kawasan ini pada Selasa (26/10/2010) malam, dua ekor sapi perah itu masih bisa melenguh. Namun Kini, dua sapi itu telah ditangani Tim SAR untuk segera diselamatkan. Sampai detik ini Total korban jiwa di Sleman akibat merapi menjadi 26 orang termasuk mbah marijan.



Semoga semua amal ibadah dan kebaikan Mbah Maridjan dan semua korban yang telah tewas selama hidup di dunia diterima disisi Allah swt. Amien....

(www.sahabatsejati.com)
Deddy Mizwar: Mbah Maridjan Menzalimi Diri Sendiri


Deddy Mizwar saat ditemui di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Kamis (28/10) mengatakan bahwa sosok pribadi Mbah Maridjan adalah sosok yang baik di matanya dan orang-orang yang mengenalnya. Namun melihat sikap Mbah Maridjan yang hanya berdiam saja saat bencana datang dinilai suatu ketololan di mata seorang Deddy Mizwar.



Deddy Mizwar saat ditemui di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Kamis (28/10) mengatakan bahwa sosok pribadi Mbah Maridjan adalah sosok yang baik di matanya dan orang-orang yang mengenalnya. Namun melihat sikap Mbah Maridjan yang hanya berdiam saja saat bencana datang dinilai suatu ketololan di mata seorang Deddy Mizwar.

"Dia diam saja pada saat bencana datang saya lihat sebagai sebuah ketololan saja," ujarnya.

Keputusan Mbah Maridjan yang bertahan di lereng Merapi bagi Deddy Mizwar merupakan suatu tindakan menzalimi diri sendiri. Karena menurutnya Mbah Maridjan sudah tahu bencana itu akan datang namun dia tidak mau menerima pertolongan Tuhan.

"Termasuk iya, menzalimi diri sendiri. Tapi orang punya keyakinan lain-lain ya. Tapi menurut pandangan saya sudah ada bencana datang dan tidak lari bukan Tuhan tidak menolong, karena pertolongan Tuhan sudah datang, dianya nggak mau menerima pertolongan Tuhan. Ada orang yang datang, ayo segera pindah itu pertolongan Allah, tapi dia tidak mau ditolong Allah gitu kan," terangnya sambil tertawa.

Sedangkan seorang wartawan yang meninggal di sana untuk menyelamatkan Mbah Maridjan menurut Deddy Mizwar hal itu tidak apa-apa karena dia masih mempunyai kepedulian terhadap sesama.

"Ya nggak apa-apa. Dia menyelamatkan kemudian dia mati. Baguslah, artinya ada kepedulian dia kepada sesama," paparnya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Pak Haji ini mengatakan untuk berpikir secara kejadian ini. Dia menambahkan bahwa profesi wartawan tidak selamanya mencari berita saja.

"Wartawan kan nggak selamanya mencari berita, dia juga bisa menolong nenek-nenek di jalanan yang ketabrak mobil. Itukan bukan mencari berita. Artinya berpikir baik sajalah," tandasnya. (kpl/buj/faj)

(yahoo.com/news)
Profile Mbah Maridjan



Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Surakso Hargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 1927; meninggal di Sleman, Yogyakarta, 26 Oktober 2010 umur 83 tahun) adalah seorang juru kunci gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX.
Setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi.

Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982.

Sejak kejadian Gunung Merapi mau meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.

Mbah Maridjan mempunyai beberapa anak
·        Mbah Ajungan
·        Raden Ayu Surjuna
·        Raden Ayu Murjana
·        Raden Mas Kumambang


Pada tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer.Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim.Sebuah jasad yang diduga kuat jasad dari Mbah Maridjan ditemukan kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya telah meninggal dunia, umumnya kondisi korban yang ditemukan mengalami luka bakar serius. Jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai jenazah Mbah Maridjan pada tanggal 27 Oktober 2010.

(wikipedia.com)